Rupiah Ditutup Ambruk ke Level Rp13.200/USD



( 2016-08-22 15:57:41 )

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan hari ini di awal pekan semakin tidak berdaya atau terjerumus ke zona merah. Kondisi pelemahan rupiah sore ini terjadi di tengah bangkitnya USD terhadap bebarapa mata uang dunia.

Posisi rupiah menurut data Bloomberg sore ini berada pada level Rp13.226/USD atau semakin melemah jika dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp13.136/USD. Pergerakan mata uang Rupiah hari ini berada pada kisaran harian Rp13.160-Rp13.255/USD.

Menurut data Yahoo Finance, rupiah ditutup pada level Rp13.213//USD dengan kisaran harian Rp13.155-Rp13.250/USD. Posisi rupiah terlihat memburuk dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.155/USD.

Di sisi lain, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah berada di level Rp13.197/USD. Posisi ini tercatat tidak lebih baik dari posisi akhir pekan kemarin di level Rp13.119/USD.

Dilansir Reuters, Senin (22/8/2016) dolar Amerika Serikat (USD) bangkit pada perdagangan awal pekan setelah komentar Wakil Ketua Fed Stanley Fischer memperkuat potensi kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed rate. Menurutnya Bank Sentral semakin dekat untuk mencapai target inflasi dan ketenagakerjaan.

Sementara itu Pejabat Fed William Dudley dan John Williams, mengeluarkan komentar yang memperdebatkan terkait kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada September. Fischer dan Dudley sangat penting dalam kepemimpinan Fed dan jelas komentar Fischer mendorong penguatan USD, ucap Strategi Mata Uang Nomura Yujiro Goto.

Tapi kita masih harus menunggu pernyataan Janet Yellen (Gubernur The Fed) di Jackson Hole dan jika komentar tersebut dovish. Maka kita bisa melihat USD akan kembali di bawah tekanan, sambungnya.

Tercatat USD mengalami kenaikan 0,5% terhadap yen ke level 100.75 untuk menjauhi posisi terendah dalam delapan pekan. Di sisi lain euro mengalami penyusutan sebesar 0,35% di level 1.1283 melawan USD atau tergelincir dari posisi tertinggi 1.1366 terhadap USD sejak 24 Juni.

Indeks USD juga melonjak 0,45% menjadi 94.917. Pasar mata uang selama sepekan terlihat bergerak variatif di tengah sinyal seputar kebijakan moneter AS dan langkah Bank of Japan (BoJ) yang masih akan memberlakukan suku bunga negatif mengutip Gubernur Haruhiko Kuroda.