Tahun 2017, Pertumbuhan Ekonomi di Yogyakarta Berkisar di 5,0% - 5,4%



( 2016-12-22 03:37:00 )

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada akhir tahun 2016 ini berkisar di angka 5%. Hal tersebut berkaca pada pertumbuhan ekonomi Yogyakarta pada triwulan III yang mencapai angka sebesar 4,68%. Angka tersebut melambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,47%, bahkan lebih lambat dibanding triwulan yang sama tahun 2015 lalu sebesar 5,3%.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, yang bernama Arief Budi Santosa mengungkapkan bahwa, pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta memang masih belum bisa beranjak dari angka 5%, karena terpengaruh dari kondisi ekonomi Indonesia pada umumnya. Kondisi ekonomi di Indonesia saat ini juga masih terpengaruh dengan kondisi perekonomian secara global.

"Harga komoditas pun masih rendah, perlambatan ekonomi masih terjadi. Pertumbuhan Amerika Serikat masih di angka 3%, lebih rendah dari tahun sebelumnya 3,2%. Sementara pasar belum solid akibat pengaruh Amerika dan juga Brexit masih terasa," paparnya, pada hari Rabu (21.12.2016).

Kondisi global tersebut masih akan berdampak terhadap keadaan ekonomi di Yogyakarta pada tahun depan. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi selama tahun 2017 berada di angka 5%-5,4% dengan struktur ekonomi yang ditopang oleh permintaan domestik. Pemanfaatan peluang seperti memperkuat sektor pariwisata akan mempengaruhi keyakinan swasta untuk melakukan investasi.

Keyakinan swasta untuk bergairah kembali akan menjadi penentu untuk melihat ekonomi di Yogyakarta lebih cepat di tengah kondisi ekonomi global yang kini tengah lesu. Sementara angka inflasi masih akan terkendali di angka target 4+-1% di tahun 2017, seiring dengan semangat Bank Indonesia mengarahkan inflasi sesuai dengan sasarannya.

Searah dengan pertumbuhan ekonomi secara nasional, ia yakin pertumbuhan ekonomi Yogyakarta akan lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya, ditopang dengan permintaan domestik yang meningkat. Akselerasi konsumsi rumah tangga yang meningkat seiring dengan peningkatan Upah Minimum Kota (UMK) ditambah dengan selesainya pembayaran ganti untung lahan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) akan mendorong kinerja konsumsi dan investasi.

"Di sisi sektoral, pariwisata akan tetap tumbuh seiring dengan membaiknya perekonomian domestik. Sesuai dengan karakteristik pariwisata Yogyakarta yang masih didominasi oleh wisatawan domestik. Dengan berbagai potensi tersebut, kami yakin pertumbuhan ekonomi Yogyakarta tahun 2017 mendatang berkisar di angka 5%-5,4%," paparnya.

Optimisme tersebut, lanjutnya tidak lepas dari kinerja investasi yang kini menunjukkan perbaikan. Terkait dengan kondisi ekonomi Yogyakarta dari sisi permintaan, komponen pendukung ekonomi Yogyakarta adalah konsumsi yang menjadi pendorong utama karena mencapai 70% dari total PDRB di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, menurutnya yang perlu dioptimalkan adalah dengan mendorong investasi lebih banyak lagi. Selama ini komposisi investasi baru sekitar 30%. Namun besarnya investasi tersebut tidak sejalan dengan besarnya nilai investasi yang masuk ke Yogyakarta.

Bank Indonesia mencatat secara nominal investasi yang masuk ke Yogyakarta masih sangat kecil dibandingkan dengan daerah lainnya di Pulau Jawa dan Bali. Hal ini tentu menjadi bahan yang harus dievaluasi mengapa nilai investasi yang masuk ke Yogyakarta tergolong kecil meski berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kemudahan investasi.